Tes HIV yang ditemukan oleh para ilmuwan, tawarkan metode diagnosis dan pengobatan yang lebih terjangkau untuk negara berkembang. Tes tersebut menggunakan nanoteknologi untuk memberikan hasil yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Ahli medis hanya tinggal melihat apa warna sampel setelah dites, merah atau biru. Hasil studi, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Nanotechnology, ini dikemukakan oleh para ilmuwan dari Imperial College di London.
"Kami berusaha untuk meningkatkan sensitivitas tes sehingga kita tidak lagi memerlukan instrumen yang canggih. Bahkan, ini sepuluh kali lebih murah," kata Molly Stevens, pimpinan studi, kepada Reuters, (28/10).
Sensor ini bekerja dengan menguji serum, cairan yang berasal dari sampel darah pasien. Serum ditaruh di atas wadah sekali pakai untuk mendeteksi adanya biomarker HIV, yang disebut p24. Ketika p24 terdeteksi, nanopartikel akan berkumpul dan membentuk warna biru. Bila hasilnya negatif, nanopartikel akan berkumpul dan membentuk warna merah. Rencananya, para ilmuwan akan menggandeng Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membantu proses produksi dan distribusi sensor baru tersebut ke negara-negara miskin.
"Kami berusaha untuk meningkatkan sensitivitas tes sehingga kita tidak lagi memerlukan instrumen yang canggih. Bahkan, ini sepuluh kali lebih murah," kata Molly Stevens, pimpinan studi, kepada Reuters, (28/10).
Sensor ini bekerja dengan menguji serum, cairan yang berasal dari sampel darah pasien. Serum ditaruh di atas wadah sekali pakai untuk mendeteksi adanya biomarker HIV, yang disebut p24. Ketika p24 terdeteksi, nanopartikel akan berkumpul dan membentuk warna biru. Bila hasilnya negatif, nanopartikel akan berkumpul dan membentuk warna merah. Rencananya, para ilmuwan akan menggandeng Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membantu proses produksi dan distribusi sensor baru tersebut ke negara-negara miskin.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2010, terdapat sekitar 23 juta orang yang hidup dengan HIV tinggal di Sub-Sahara Afrika dari total 34 juta orang di seluruh dunia. Sub-Sahara Arika juga menyumbang 1,9 juta kasus baru dari total 2,7 juta kasus global pada tahun yang sama.
[des] SOURCE


Posting Komentar